Kamis, 12 Februari 2015

Wanita Sepanjang Zaman

Saat ini aku ingin Engkau mengunjungiku
Di pembaringan jiwa ini
Hatiku pilu terluka
Engkau telah menyayatkan pedang keindahanMu
Lewat tawa riang seorang bocah dalam gendongan bundanya
Ingin aku rampas senyumnya
Tetapi melecut begitu saja
Diantara daun-daun keriangannya
Karena senyuman itu milik kalbu ibunya
Dinda, Engkau begitu senang membuat kekalahan
Namun begitu saja engkau hadirkan senyumMu
Lewat rasa sakit itu
Kekasih,
Aku melihatMu terpaku
Ditubuh teratai putih
Bertebaran ditengah danau
Menari perlahan ikuti irama angin kecemasan
Ketika senjaMu merelakan dirinya dipeluk lembut sang malam
Aku diseberang sana
Dipisahkan jalan tak berjarak denganMu
Kehilangan hasrat, semua punah
Seperti rama-rama musnah
Dimakan nyala cahaya
Dinda,
Sekejap menatap wajahMu
Dalam waktu ketidakmengertian
Dalam ruang ketiadaan
Setelahnya itu hanya ketersiksaan panjang
Makassar di April yang hujan
Turun menyuburkan kebun mawar di padang jiwaku
Ketika senja mengulum senyumnya
Kulihat tubuhMu berloncatan gesit
Diatas buih ombak Losari
Menghempas pantai Butta Karaeng
Menari selembut kain sutera Wajo
Melambai ditiup anging Mamiri
Jemariku gemetaran merekam syahdu keindahanMu
Dalam bait-bait puisi
Hujan menusuki selaput halus hatiku yang kesepian
Dan meninggalkan tetes darah rindu tiada mengering
Engkau kekasihku abadi tanpa tanda
Karena kedipan di ujung mataMu
Tak bisa ditiru dan dihadirkan siapapun
Engkaulah wanita sepanjang zaman
Tiada berawal dan tiada berakhir
Wujud eksotisme dunia Timur
Dikaulah wujud kesempurnaan
Yang menitis pada jasad perempuan bumi
Hanya KAU lah yang Kucintai
Wahai Kekasih Jiwa Abadi
Puncak pencapaian Cinta Abadi
Sebab kesempurnaan cintaku padaMU
Hanya ada dalam kematian
Disini di atas sajadah!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar